Menu

( pcs)
jmlBarangBerat (Kg)Total
keranjang anda kosong
0 0,00Rp 0
Selesai Belanja

Info Celana Sirwal Ikhwan

Celana sirwal ikhwanCelana sirwal ikhwan mungkin istilah yang masih asing di telinga masyarakat Indonesia. Orang akan lebih familiar dengan istilah “celana cingkrang”. Secara teknisnya, kedua istilah tersebut merujuk pada satu item yang sama, yaitu celana panjang pria dengan model gombrong atau tidak melekat membentuk siluet tubuh serta memiliki panjang di atas mata kaki. Celana seperti itulah yang disebut sebagai sirwal. Sedangkan kata ikhwan sendiri merupakan kata ganti laki-laki dalam bahasa Arab yang menegaskan bahwa celana dengan desain tersebut memang diperuntukkan bagi para lelaki. Di Indonesia, tokoh public yang kerap menggunakan jenis celana seperti ini dan termasuk kategori pelopor adalah artis Teuku Wisnu yang merupakan suami dari pesinetron Shireen Sungkar, putri dari pesohor Mark Sungkar.

Sejarah Celana Sirwal

Celana sirwal di dunia memang identik dengan kaum Muslim, terutama dari Timur Tengah. Penggunaan celana sirwal sendiri telah sesuai dengan sunnah Rasulullah untuk menggunakan pakaian yang memudahkan ketika hendak beribadah dan tidak memamerkan aurat. Celana sirwal ikhwan awalnya dikonsepkan agar Muslimin (sebutan untuk umat muslim pria) lebih mudah dalam melakukan ibadah meski tengah menjadi musafir (orang-orang yang tengah menempuh perjalanan jauh) sekalipun. Sedangkan salah satu syarat sahnya sholat untuk lelaki muslim adalah terlihatnya kedua mata kaki. Sehingga, mulailah dibuat generasi pertama celana sirwal yang berkonsep longgar dan yang terpenting tidak sampai menutupi kedua mata kaki bagi para musafir agar tidak perlu kebingungan mengganti pakaian ketika hendak beribadah sedangkan posisi saat itu tengah berada di areal terbuka yang tidak memungkinkan, seperti gurun misalnya. Dengan demikian, para musafir tetap dapat beribadah sesuai syariat atau peraturan.

Perkembangan Celana Sirwal Di Dunia

Celana sirwal ikhwan seiring dengan penyebaran agama Islam pun turut menyebar ke berbagai negara di seluruh belahan dunia. Di mana Islam pernah berjaya, maka pengguna-pengguna celana tersebut pun masih akan mudah ditemukan, bahkan hingga di masa kini, ketika ratusan abad telah berlalu. Di Yunani pun, yang dahulu pernah ditaklukkan oleh pasukan muslim di bawah kepemimpinan kekhalifahan, celana sirwal cukup populer. Pun demikian dengan negara-negara Eropa. Meski kini fungsinya telah berubah dan bukan digunakan sebagai celana beribadah, melainkan celana untuk bertani. Namun, hal itu membuktikan betapa pengaruh Islam sangat besar dan nyata di seluruh dunia.

Celana Sirwal Di Indonesia

Walaupun tidak disadari, celana sirwal ikhwan di Indonesia telah lama menyentuh dan mengakar dalam aspek-aspek budaya di masyarakat. Seperti celana khas pakaian Betawi serta para pria Madura yang menggantung sebagaimana dengan karakteristik celana sirwal, meskipun secara fungsi telah mengalami pergeseran sebagaimana terjadi pula di berbagai belahan dunia lainnya. Meski demikian, secara tidak langsung hal tersebut membuktikan bahwa Islam telah terpatri dalam kehidupan keseharian masyarakat adat di nusantara yang merupakan sebuah fakta positif.

Sedangkan untuk penggunaan celana sirwal ikhwan yang memang sesuai dengan syariat, di mana digunakan sebagai pakaian untuk beribadah dan dipadukan dengan atasan gamis, masih cukup menimbulkan polemik di masyarakat. Mayoritas masyarakat masih berpandangan sempit terhadap para lelaki yang berniat untuk memenuhi sunnah dalam berpakaian dengan menggunakan celana sirwal namun justru mendapat tudingan oleh lingkungan sebagai kalangan ekstrimis. Ditambah lagi bila penggunanya melebatkan jambang yang sebenarnya juga merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Hal itu dipicu oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang berpenampilan serupa, yakni menggunakan celana pangsi atau sirwal ikhwan dan bercambang, lalu menyebarkan teror di Indonesia melalui serangkaian aksi bom bunuh diri dan salah satu yang paling dahsyat adalah Bom Bali 2002. Padahal sesungguhnya, memang penampilan seperti itulah yang sesuai dengan sunnah dari Rasulullah SAW. Meski demikian, jika memang ingin tetap menggunakan celana sirwal, tidak perlu memedulikan penilaian orang dan tetap berpegang teguh terhadap prinsip-prinsip yang diyakini tersebut. Terutama kini dengan semakin banyaknya publik figur yang turut berpenampilan syar’i, pandangan masyarakat pun perlahan menjadi terbuka dan mulai menerima bahwa penampilan demikian bukanlah ciri khas seorang teroris, melainkan para hamba Allah yang mencari keridhoannya.